Selasa, 19 Januari 2010

Ali bin Abi Thalib


Nama lengkap Beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah Abul Hasan dan Husein, yang digelari Abu Turab, keponakan sekaligus menantu Rasulullah SAW. dari puteri Beliau Fatimah az-Zahra.
Ali sangat menonjol baik dalam menggunakan pedang maupun dalam menggunakan pena. sebagai seorang ulama’ dan seorang orator (ahli pidato), Ali merupakan orang yang paling ulung waktu itu. Beliau dikenal sebagai gerbang ilmu pengetahuan, disebabkan oleh ilmu, kebijaksanaan, dan kecerdasannya, nasihatnya sangat dihargai oleh Khalifah Abu Bakar dan Umar dan Beliau menepati kedudukan sebagai penasehat utama didalam kekhalifahan mereka. Beliau juga merupakan anak muda pertama yang menerima islam.
A. Pemilihan Beliau Sebagai Khalifah
Penduduk ibukota Madinah didukung oleh ketiga pasukan yang datang dari Mesir, Basrah, dan Kuffah memilih Ali bin Abi Tahlib untuk menjabat sebagai Khalifah. Pada mulanya dia menolak, akan tetapi atas desakan massa itu, ia pun menerima jabatan itu. Baiat berlangsung di masjid Nabawi, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat baiat dengan terpaksa, dan justru keduanya mengajukan syarat didalam baiat itu, bahwa Khalifah Ali akan menegakkan keadilan terhadap para pembunuh Khalifah Ustman. Pengangkatan Khalifah Ali itu pada bulan Dzulhijjah tahun 35 H/656 M dan memerintah selama 4 tahun 9 bulan.
B. Kebijakan Yang Dilakukan
Sebagai seorang Khalifah, Ali meneruskan cita-cita Abu Bakar dan Umar. Beliau mau mengikuti dengan tepat prinsip-prinsip Baitul Mal. Beliau memutuskan untuk mengembalikan ke dalam pembendaharaan Negara semua tanah yang diambil alih oleh Bani Umayyah dan lain-lainnya pada masa kekhalifahan Ustman. Khalifah Ali juga bertekad untuk mengganti semua gubernur yang tidak disenangi oleh rakyat. Beliau mengangkat Ustman bin Hanif sebagai gubernur Basra menggantikan Ibnu Amir. Qais dikirim ke Mesir untuk menggantikan gubernur disana menggantikan Abdullah. Gubernur-gubernur Kufah dan Syiria dimintanya meletakkan jabatan, tetapi Muawiyah gubernur Syiria menolak menaati Ali sebagai Khalifah. Oleh karena itu, Khalifah Ali harus menghadapi kesulitan-kesulitan dengan Muawiyah.
C. Peristiwa-Peristiwa Penting Yang Terjadi
1. Pemberontakan Thalhah dan Zubair
Tak lama setelah dinobatkan sebagai Khalifah, Ali dituntut untuk menangani pemberontakan Thalhah dan Zubair. Tuntutan mereka adalah Ali harus segera menghukum para pembunuh Ustman. Karena Khalifah Ali tidak menerima tuntutan mereka, Thalhah menarik sumpah setia mereka dan pergi menuju Basra karena mengharapkan mereka akan memperoleh banyak pengikut di kota itu. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan Aisyah yang sedang dalam perjalanan pulang dari ibadah haji. Aisyah akhirnya bergabung dengan mereka. Mereka pergi dari Makkah ke Basra dan menawan gubernur Ibnu Hanif, kelompok Ali dikalahkan dan Basra jatuh ketangan Thalhah dan Zubair.
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 5 Rabiul Akhir tahun 36 H. peristiwa ini disebut dengan perang jamal shughra.
2. Perang Unta atau Perang Jamal
Khalifah ingin sekali menghindari perang dan menyelesaikan masalah dengan Thalhah dan Zubair secara damai. Khalifah Ali meneruskan perundingan untuk penyelesaian secara damai, tetapi banyak orang yang berkepentingan tidak menyukainya. Thalhah dan Zubair terbunuh ketika melarikan diri. Sebanyak 20.000 orang terbunuh ketika melarikan diri. Aisyah ditawan, Khalifah Ali mengirimkannya ke Madinah ditemani saudaranya Muhammad dengan kehormatan sepantasnya.
3. Perang Shiffin dan Arbitase (Tahkim)
Perang shiffin adalah peperangan pasukan Ali melawan pasukan Muawiyah. Ali mengetahui bahwa gubernur Syiria itu berambisi dan tidak mengindahkan moral jahat dan lagi pula diangkat oleh pendahulunya. Disamping itu, terhadap kebijakan-kebijakan Ali, Ia tidak setuju.
Ali masih berketapan hendak damai, dikirimlah delegasi untuk meminta Muawiyah membaiatnya dan bersatu. Muawiyah tidak memperdulikannya, apalagi melepaskan kekuasaannya. Perang berkecamuk di Shiffin dan kemenangan membayangi Ali semangat pasukan Muawiyah mulai melemah. Tetapi Amr bin Ash mengajukan saran agar Muawiyah memerintah orang-orang diantara pasukanya untuk memperlihatkan Al-Qur’an ke atas tombak sambil berseru mengajak penduduk Irak kembali kepada Al-Qur’an dan Isinya.
Akhirnya perang berhenti, peristiwa itu disebut sebagai Tahkim. Kelompok dari Ali yang menentang kebijakannya untuk berhenti perang disebut Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Wahab al-Rasyibi sebanyak 12.000 orang dan mereka berkumpul di Harura. Dua tahun kemudian, di Daumatul Jandal bertemu antara pihak Ali dan Muawiyah masing-masing berjumlah 400 orang dan diketahui Abu Musya al-Asy’ari dan Amr bin al-Ash. Akhirnya tahkim gagal total akibat tipu muslihat dari Amr.
Semenjak perang shiffin inilah umat islam terpecah ,menjadi 3 golongan yaitu pendukung Ali, golongan netral, dan penentang Ali yang membentuk kelompok sendiri (Khawarij).
4. Perang Nahrawan
Kelompok khawarij banyak melakukan huru-hara dan membuat kacau pemerintahan Ali. Kelompok ini kemudian dihadapi oleh pasukan Ali di Nahrawan yang melibatkan 65.000 orang. Dalam peristiwa Nahrawan ini menewaskan 30.000 orang Khawarij. Sebagian besar yang tewas tersebut adalah Bani Tamim di Kufah. Pada akhirnya emosi kelompok Khawarij tidak terbendungkan dan Abdurrahman Ibnu Muljam membunuh Khalifah Ali pada saat sedang memasuki masjid untuk shalat pada 24 januari 661 M.
D. Jihad dan penaklukan (perluasan wilayah) pada masa khalifah ali bin abi tahlib
Khalifah yang ke-empat Ali bin Abi Thalib menghadapi masalah-masalah berat dan kondisi dalam negeri yang labil. Perang diantara kaum Muslimin, munculnya kaum Khawarij, sehingga Khalifah sibuk mengurus masalah-masalah dalam negeri dan memadamkan api fitnah yang marak pasca terbunuhnya Khalifah Ustman bin Affan secara zhalim.
Hal itulah yang menyebabkan terhambatnya pergerakan jihad dan perluasan wilayah Islam yang merupakan perkara yang sangat menonjol pada masa Khalifah sebelumnya. Akan tetapi Beliau mampu mempertahankan wilayah-wilayah yang sudah ditaklukkan.
Beliau berjasa dalam menjelaskan sanksi-sanksi hukum terhadap komplotan pembangkang, memerangi kaum murtad, dan kelompok radikal pengikut Saba’iyah yang meyakini sifat Uluhiyah pada Beliau.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Coolleeach Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template